Welcome to Wedding Vendor

ON / BY Mia/ IN Artikel, wedding couple/

Cinta datang bisa dari mana dan di mana saja tak mengenal suku bangsa dan negara. Begitu pun dengan pasangan pengantin yang satu ini, Tati dan Haleem yang menikah pada 6 April 2018 yang lalu.

Akad dan resepsi yang dilaksanakan di Swiss BelHotel Pondok Indah tersebut mengusung konsep outdoor yang simple. Persiapan pesta pernikahan mereka tergolong singkat hanya 10 hari saja, yang lama ada mengurus berbagai dokumen untuk pernikahannya dikarenakan kesulitan dalam pengurusan dokumen.

Bagi yang menikah sesama Warga Negara Indonesia (WNI) proses mengurus dokumen untuk pernikahan bisa dilakukan dalam waktu yang cukup singkat, karena persyaratan yang diminta juga tidak terlalu rumit. Namun bagi pasangan yang menikah beda negara ada beberapa persyaratan yang diminta sedikit lebih rumit dan membutuhkan waktu yang cukup panjang untuk mempersiapkannya.

Mengurus dokumen pernikahan lintas bangsa membutuhkan sejumlah proses yang terbilang cukup panjang, sebab pengurusan berbagai dokumen pernikahan tersebut harus dilakukan di kedua negara pasangan yang bersangkutan, maka berikut beberapa langkah yang bisa membantu dalam mempersiapkan dokumen tersebut.

Karena rumit dan akan sedikit memakan waktu, maka ada beberapa hal yang harus diperhatikan saat akan menikah dan melangsungkan resepsi. Jangan sampai gedung dan katering telah dipesan, namun dokumen yang dibutuhkan untuk melangsungkan pernikahan tersebut belum selesai. Pengurusan dokumen pernikahan antara WNI dengan WNA membutuhkan waktu yang cukup panjang, tergantung pada kinerja kantor kedutaan dan urusan imigrasi lainnya.

Sebaiknya berbagai dokumen yang dibutuhkan lengkapi terlebih dahulu sebelum mengurus berbagai kebutuhan lainnya.

Jika ingin menikah secara resmi, maka pernikahan harus dilakukan di KUA. Hal ini akan membutuhkan sejumlah dokumen pengantar, diantaranya:

• Dokumen yang dibutuhkan oleh KUA

Sebelum mengurus pernikahan di KUA, maka akan dibutuhkan sejumlah dokumen awal berupa surat N1, N2, dan N4. Dokumen ini bisa diurus dengan mengikuti beberapa tahapan berikut:

1. Mendatangi ketua RT tempat salah satu pasangan (WNI) berdomisili untuk meminta surat pengantar ke kelurahan. Setelah mendapatkan surat pengantar yang telah ditandatangani dan distempel oleh RT dan RW setempat, bawa semua surat pengantar tersebut ke kelurahan. Jangan lupa untuk melampirkan fotocopy KTP, akte lahir, dan kartu keluarga. Pihak kelurahan akan memproses dan mengeluarkan surat N1, N2, dan juga N4 untuk proses selanjutnya di kecamatan.

2. Surat N1, N2, dan N4 tersebut selanjutnya di bawa ke kantor kecamatan, di sana surat-surat ini akan ditandatangani dan distempel oleh camat.

3. Setelah persyaratan awal tersebut terpenuhi, maka langkah selanjutnya adalah mengurus pernikahan ke kantor KUA terdekat.

Sebelum mendatangi kantor KUA, jangan lupa untuk mempersiapkan beberapa syarat berikut ini:

• Untuk Pihak WNI:

1. Surat keterangan belum / tidak menikah yang ditandatangani oleh RT dan RW.
2. Formulir N1, N2, dan N4 dari Kelurahan dan Kecamatan
3. Formulir N3 dari KUA (surat persetujuan mempelai yang harus ditandatangani oleh kedua mempelai)
4. Fotocopy KTP.
5. Fotocopy Akta Kelahiran.
6. Fotocopy Kartu Keluarga.
7. Fotocopy KTP orang tua.
8. Buku nikah orang tua (jika Anda merupakan anak pertama).
9. Data 2 orang saksi pernikahan, berikut fotocopy KTP yang bersangkutan.
10. Pas foto 2×3 (4 lembar) dan 4×6 (4 lembar).
11. Bukti pembayaran PBB (Pajak Bumi Bangunan) terakhir.
12. Prenup (perjanjian pra nikah).

• Untuk Pihak WNA:

1. CNI (Certificate of No Impediment) atau surat izin menikah di negara lain yang dikeluarkan dari kedutaan calon suami / istri.
2. Fotocopy akta kelahiran.
3. Fotocopy kartu identitas (KTP) dari negara calon suami / istri.
4. Fotocopy paspor.
5. Surat keterangan domisili (alamat calon suami atau istri saat ini).
6. Pas foto 2×3 (4 lembar) dan 4×6 (4 lembar).
7. Surat keterangan mualaf (jika agama sebelumnya bukan Islam).

Di dalam mengurus berbagai syarat pernikahan ini, semua dokumen dalam bahasa asing harus diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Hal ini harus dilakukan oleh seorang penerjemah yang disumpah. Hindari untuk memberikan dokumen asli kepada pihak KUA, sebab sangat berisiko terhadap keamanan dokumen tersebut. Cukup sertakan dokumen dalam bentuk fotocopy saja, sedangkan yang asli bawa pulang dan disimpan sendirian.

• Dokumen untuk Mendapatkan CNI dari Kedutaan Asing

Untuk mendapatkan CNI (surat single) dari kedutaan asing, dibutuhkan beberapa syarat berikut:
1. Akta kelahiran terbaru (asli).
2. Fotocopy kartu identitas (KTP) dari negara asal.
3. Fotocopy paspor.
4. Bukti tempat tinggal / surat domisili (bisa berupa fotocopy tagihan telepon / listrik.
5. Formulir pernikahan dari kedutaan yang bersangkutan.

• Dokumen WNI yang akan diminta Kedutaan Asing:

1. Akta kelahiran asli dan fotokopi.
2. Fotocopy KTP.
3. Fotocopy surat N1, N2 dan N4 dari Kelurahan.
4. Fotocopy prenup (jika ada).

Sebelum menyerahkan semua dokumen persyaratan tersebut ke kedutaan, ada baiknya untuk memfotocopy semua dokumen tersebut sebagai backup atau data pegangan, sebab pihak kedutaan tidak akan mengembalikan dokumen itu nantinya. Setelah semua persyaratan ini dipenuhi, maka proses selanjutnya adalah menunggu kabar dari kedutaan.

Proses ini membutuhkan waktu yang cukup lama dan berbeda-beda, tergantung pada kebijakan dan kinerja kedutaan dari negara yang bersangkutan. Biasanya kedutaan akan membutuhkan waktu sekitar satu sampai dua bulan untuk proses tersebut, tapi bisa saja lebih lama dari itu.

Beberapa kantor kedutaan biasanya akan melakukan interview kepada calon mempelai yang akan menikah. Setelah semua dokumen diproses, pihak kedutaan akan menghubungi jika surat-surat tersebut telah selesai dan bisa digunakan.

Jika semua persyaratan dan dokumen yang dibutuhkan telah terpenuhi, maka pernikahan dapat dilangsungkan di KUA. Bagi pasangan yang melangsungkan pernikahannya di kantor KUA, tidak akan dikenakan biaya apapun.

Namun jika pernikahan dilakukan di luar kantor KUA atau di luar jam kerja KUA, maka ada biaya yang akan dikenakan, yaitu sebesar Rp.600.000,- (enam ratus ribu rupiah). Biaya tersebut akan masuk ke dalam kas negara. Dalam hal ini pihak KUA tidak boleh menerima pembayaran langsung dari calon pengantin.

Setelah menikah secara resmi di KUA, maka kedua pasangan pengantin akan mendapatkan buku nikah. Pernikahan di KUA akan tercatat secara otomatis di kantor catatan sipil, jadi tidak perlu untuk melakukan pendaftaran lagi di sana. Ada baiknya untuk segera melaporkan pernikahan tersebut ke kedutaan negara pasangan, agar pernikahan ini tercatat dan diakui oleh negara yang bersangkutan. Hal ini akan jauh lebih mudah jika Anda lakukan sejak awal, agar berbagai masalah di kemudian hari bisa dihindari.

……………………………………………………………….

Venue: SwissBel Hotel Pondok Indah
Organizer: Mantenan
Make Up: Sanggar Tien Santoso
Dokumen: Lingkar Delapan
Entertainment: Essembicy Entertainment
Dekorasi: Adinda Wedding Decoration
MC: Gilang Wiguna.

WhatsApp chat